Kontestasi 2019 dan “Swing Voters”

Swing voters (pemilih mengambang) dipastikan akan menjadi rebutan bagi kedua pasang kandidat yang bertarung pada Pemilihan Presiden 2019. Pasalnya, hasil berbagai survei menyebutkan, jumlah “pemilih galau” tersebut berkisar 30-40 persen dari jumlah pemilih nasional. Swing voters merupakan istilah yang ditujukan kepada kelompok pemilih yang masih ragu atau bimbang terhadap pilihannya. Swing voters terjadi karena pemilih belum memiliki pilihan atau sudah memiliki pilihan tapi masih menimbang-nimbang. Dalam praktiknya, swing voters bisa saja baru menentukan/merubah pilihannya saat satu bulan atau satu pekan menjelang pencoblosan, bahkan pada hari H pencoblosan.

Tentu fenomena swing voters harus menjadi catatan serius mengingat trennya selalu meningkat dalam setiap momentum pemilu. Data Perkumpulan Swing Voters (PSV) 2018 misalnya mencatat, angka swing voters mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.
Dimulai dari 7,3 persen pada Pemilu 1999, 15,9 persen pada Pemilu 2004, 21,8 persen pada Pilpres putaran I tahun 2005, dan 23,4 persen pada Pilpres putaran II tahun 2005. Sedangkan pada Pileg 2009 terdapat 29,3 persen golput, sebanyak 28,3 persen pada Pilpres 2009, 24,8 persen pada Pileg 2014, dan 29,1 persen pada Pilpres 2014.

Dalam sejumlah literatur disebutkan bahwa salah satu sebab terjadinya swing voters karena adanya fenomana “doublethink”. George Orwell (1903-1950) menyebut bahwa “doublethink” adalah kemampuan seseorang mempercayai dua hal yang bertolak belakang, yakni antara akal dan hati terbelah. Misalnya, secara emosional (hati) seseorang tertarik terhadap kandidat, namun secara logika (akal) belum dapat menerimanya. Atau sebaliknya.

Dalam konteks Pilpres 2019, fenomena doublethink terjadi ketika diskursus politik hari ini lebih sesak dengan narasi-narasi sensasional ketimbang narasi substansial yang bersifat programatik. Fakta ini terkonfirmasi dengan hasil jajak pendapat Litbang Kompas Oktober 2018 yang menyebutkan, hanya 15,8 persen responden yang menyatakan tahu visi-misi Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin, dan hanya 11,6 persen yang tahu visi-misi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Itu artinya, sudah sebulan lebih masa kampanye berlangsung namun publik rupanya belum mengetahui secara utuh apa visi misi dan gagasan para capres-cawapres. Situasi itulah yang sedikit banyak menjadi akar munculnya fenomena doublethink yang berbuntut pada swing voters.

Kelompok Milenial
Jika ditelusuri, fenomena doublethink sebagai akar penyebab swing voters banyak dialami oleh kelompok milenial. Data Poltracking Indonesia 2018 menyebutkan, sebanyak 63 persen pemilih milenial mengaku masih mungkin berubah dalam menentukan/memilih siapa kandidatnya.

Dalam lanskap perilaku pemilih, generasi milenial merupakan ceruk pemilih yang masuk kategori pemilih rasional, yakni mereka yang memilih berdasarkan rekam jejak, prestasi, program, dan visi-misi kandidat. Ini berbeda dengan pemilih sosiologis (yang memilih karena faktor agama, suku, afiliasi organisasi, dll) dan pemilih psikologis (yang memilih berdasarkan ketampanan, kesantunan, dll).
Selain itu, merujuk pendapat Milbrath dan Goel (1997), pemilih milenial juga masuk kategori pemilih apatis. Pemilih apatis adalah mereka yang alergi terhadap politik, bahkan cenderung menarik diri dari proses politik yang ada. Apatisme kelompok milenial ini misalnya terekam dalam temuan survei Litbang Kompas Oktober 2017 yang menyebutkan, hanya 11,8 persen generasi milenial yang mau menjadi anggota partai, sebanyak 86,3 persen tidak bersedia, dan sisanya 1,9 persen mengatakan tidak tahu.
Merebut Swing Voters Karena itu, merebut suara swing voters bukanlah pekerjaan mudah. Sebagai ceruk pemilih rasional dan cenderung apatis, mendekati mereka dengan sentimen politik identitas, politik hoaks, ataupun politik transaksional, merupakan bentuk kesia-siaan.

Secara demografis, para swing voters terdiri dari kelas terdidik, secara ekonomi cenderung menengah, melek informasi dan pengguna media sosial aktif. Mereka juga kategori pemilih kritis sehingga punya kemampuan menyaring dan melakukan konfirmasi setiap informasi yang masuk. Sehingga strategi politik berbalut identitas, hoaks, dan transaksional belum tentu mujarab.
Kendati demikian, sebagai sebuah strategi, paling tidak terdapat tiga cara untuk merebut swing voters. Pertama, kampanye programatik. Sebagai pemilih rasional, para swing voters tentu lebih tertarik dengan kampanye berbasis program dan gagasan. Artinya, kandidat yang mampu menyajikan program, visi misi dan terobosan-terobosan segar (yang terukur dan masuk akal) sangat potensial dipilih kelompok ini. Kampanye programatik dapat menggiring pemilih yang awalnya undecided voters (belum menentukan pilihan) akan segera menentukan pilihan, sedangkan pemilih yang awalnya ragu-ragu (swing voters) akan menjadi yakin (strong voters).
Kedua, kampanye kreatif. Sebagai pemilih dari kelompok muda yang sangat adaptif dengan perkembangan digital, model kampanye kreatif yang berisi gagasan sekaligus hiburan tentu sangat diminati. Kampanye kreatif merupakan salah satu cara penetrasi ke pemilih dengan motode paling efektif. Ketiga, kampanye berbasis personal. Sebagai kelompok pemilih kritis, mereka akan lebih tertarik dengan model kampanye berbasis personal ketimbang berbasis massa. Fenomena ini masuk akal mengingat di era 4.0, kampanye konvensional seperti pengerahan massa serta pemasangan baliho dan spanduk sudah kurang relavan untuk anak zaman now.
Para kelompok kritis milenial ini lebih tertarik dengan diskursus ide dan gagasan melalui ruang-ruang virtual. Ruang virtual seperti media sosial misalnya, merupakan sarana kampanye yang disukai oleh kelompok kritis. Mengapa? Karena media sosial mampu menghadirkan kampanye yang tidak monolog, namun membuka ruang-ruang dialog serta tegur sapa. Berbeda dengan spanduk dan baliho yang cenderung statis, media sosial punya karakter dinamis mengingat di dalamnya terdapat sarana untuk catting, komentardan lain sebagainya.

Akhirnya, sebagai ceruk pemilih yang cukup dominan dalam kontestasi elektoral 2019 mendatang, merebut ceruk pemilih swing voters adalah suatu keharusan. Keberhasilan merebut swing voters merupakan satu tangga menuju kemenangan.

Ali Rif’an
Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia

*) Terbit di Suara Pembaruan, 03 Desember 2018

Share this post